Senin, 21 November 2011

Kisah. Yg Telah Dibkukan


IBUKU ADALAH MOTIVATOR KU
Ibu sang motivator anak nya,
Oleh: Sarwan Kelana As-Samsi

            Ibuku adalah Motivatorku, itulah kalimat pertama yang dilafazkan seorang anak laki-laki yang siap menghadapi pahit getirnya samudra kehidupan. Laki-laki yang tengah berusaha mencari kehidupan lebih baik untuk memberi kebahagian kepada ibunda tercinta dengan berbekalkan sebuah kalimat  “Ibuku Adalah Motivatorku.”
“Mak, Iwan mohon Mamak memberi izin kepada Iwan dan juga Meridhoinya.” aku mengawali pembicaraan dengan ibu yang seringkali kupanggil Mamak.
Aku dibesarkan oleh  ibuku hingga aku dapat menyelesaikan Madrasah Aliyah Negri (MAN) dan  kami hanya tinggal berdua, semenjak Ayah meninggalkan kami untuk selamanya.
Saat itu aku baru duduk dibangku Sekolah Dasar kelas tiga. Semenjak itu Ibuku berjuang membesarkan aku sebagai anak laki-laki satu-satunya sendirian. Aku tahu ada banyak kesedihan dialami ibu yang selalu berharap agar anaknya ini tumbuh berguna bagi Agama, Bangsa serta Ummat. Harapannya kelak putra semata wayang ini akan menyempurnakan kebahagiaan hidupnya. Pahitnya hidup tak pernah ia tampakkan dengan air mata kecuali dengan senyum ikhlas pada kehendakNya.
            Terangkum indah dalam hatiku, sepekan sebelum ujian akhir sekolah aku sampaikan pada Mamak bahwa aku ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. 
“Mak, kalau wan lulus nanti wan endak nyambung kuliah macam kawan-kawan tu, boleh mak? itupun kalau Mak mengizinkan dan meridhoinye” kataku dengan logat kampung
“Iwan! mak bangga dengo  keinginan dikau, tapi sekarang dikau belajo aje dengan baik kan belum tau lulus atau tidak.  Sekarang dikau belajolah bio lulus dan doakan bio mak dapat rezeki bio dikau dapat kuliah” kata Mamak penuh nasehat. Aku hanya tersenyum menatap wajahnya yang member motivasi.
“Eeep satu lagi dikau kuliah disini aje dengan mak, mak kan sendiri” tambah Mamak
Mamak ingin aku melanjutkan perguruan tinggi di kampung, karena memang sudah ada Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) di sana. Bukan aku tidak mau menuruti keinginan atau mendengar kata-kata Mamak, aku hanya tidak mau menyusahkan Mamak lagi. Aku bertekat untuk berkelana di tempat yang lebih jauh dari kampung halamanku. Aku ingin merasakan bagaimana kehidupan di luar sana, bagaimana aku bias mengerti arti sebuah kemandirian sehingga aku berani menyampaikan semua keinginanku itu pada ibu, Mamakku sayang .
“Iye mak, tapi wan sudah lamelah di kampung ni… rasenye endak merantaulah mencari pengalaman di tempat orang. Lagipun wan tak endaklah menyusahkan Mak terus, mulai dari kecik sampai dah tamat dari MAN ni. Mak terus yang bekerja, memasak bahkan  Mak juge yang mencuci baju wan. Makenye, sudah cukuplah wan menyusahkan Mak. Wan mau dan ingin mandiri Mak,,,itupun kalau Mamak ngasih…?” ucapku menjelaskan.
“Iwan…nampaknye dikau endak jauh dari mak ye..?” kata Mamak dengan nada yang membuat air mataku mengalir tanpa kuminta.
 “Bukan mak, wan tu sayang betol dengan Mak makenye wan tidak mau menyusahkan Mak terus. Semua ini wan lakukan untuk kebahagian kita Mak” harapku pada perempuan yang tangguh ini. Perempuan yang mengajari aku tentang banyak hal akan arti kehidupan yang sesungguhnya.
Iyelah, kalau itu yang dikau endak,  mak izinkan. Lagi pula dikau tak mau menyusahkan mak lagi dan dikau sudah beso pergilah dikau belajo dan cari pengalaman ditempat orang. Sekarang Mak do’akan semoga dikau lulus dan dapat nilai baik, setelah itu semangat terus untuk kuliah.” kata-kata Mamak meluncur seperti seorang Motivator Professional.
Ada keharuan menyeruak dalam hatiku, perempuan hebat ini memang sang motivator dalam hidupku. Mamak yang akan selalu mengerti apa yang terjadi pada anak laki-lakinya ini. Aku hanya bisa mengangguk tersenyum atas keridhoannya untuk mendukung keinginanku kuliah di luar kampung. Segera aku memeluk perempuan yang sangat aku cintai ini.
Waktu berjalan, tidak terasa aku siap-siap untuk melihat hasil Ujian Akhir Nasional. Aku pamit pada Mamak sebelum berangkat menuju sekolah untuk melihat nilaiku. Alhamdulilah,,, aku lulus. Segera aku pulang dan memberitahu Mamak bahwa aku lulus. Aku melihat kebahagiaan dan rasa bangga terlukis nyata diwajah Mamak ketika mengetahui bahwa anak laki-lakinya ini dinyatakan lulus.
            Sesuai dengan yang telah kusampaikan pada Mamak bahwa sepekan setelah kelulusan, aku akan berangkat melanjutkan ke perguruan tinggi di kota Pekanbaru. Aku tidak ingat entah hari apa dan tanggal berapa waktu itu, tapi yang jelas satu hari sebelum keberangkatanku tiba-tiba Mamak menghampiriku yang tengah bersiap diri.
“Nak, mak tadi dapat masukan dari saudara kita, katanya dikau tak usah kuliah jauh-jauh. Lagi pula uang tidak ada juga apalagi ke Pekanbaru.“ ucapnya berulang kali sambil menahan air matanya.
“Mak, wan harap kita jangan mudah terpengaruh dengan cakap-cakap orang lain yang kurang senang dengan kebahagian kita,” aku mencoba menjelaskan
 “Tapi yang dikatakan oleh mereka ini adalah kenyataan nak,” Mamak meninggikan nada suaranya. Aku terdiam.
Aku harus katakan semuanya pada Mamak dan memberikan semangat dan pengertian seperti yang selama ini Mamak berikan padaku.
“Mak, wan ingin kuliah di sana untuk kebahagian dan ketenangan kita. Apakah Mamak lebih mendengo kata-kata orang lain. yang  senang melihat keadaan kita sekarang ini, orang yang tak suka melihat kebahagian kita. Itulah godaan untuk kita Mak.” aku mencoba menyakinkan Mamak.
Aku melihat wajah Mamak perlahan tersenyum dan kembali memancarkan semangat seolah-olah memberi motivasi penuh kepadaku untuk terus maju.
“Nak, kalau begitu teruskan niat dan cita-citamu, Do’a Mak selalu menyertaimu“ kata Mamak menatapku dengan yakin.
Sejak saat itu Mamak selalu memberiku semangat dan Motivasi agar aku dapat mempertahankan semagat dan keinginanku untuk bisa kuliah dan hidup lebih baik.
“Wan, siapa saja kawan-kawan kamu yang melanjutkan ke perguruan tinggi?” Tanya Mamak tiba-tiba.
“Banyak Mak, Hasanal, Rudi, Ijal, Samsul, Mazwan, Egi, Tarmizi dan Azri.”  Itu teman-temanku yang sering ke rumah dan Mamak kenal  dengan mereka
“Jadi baguslah tu semoga kalian bertemu di sana” kata Mamak
Seperti biasa, setiap sore Kumar  sahabatku yang sering main dan tidur  di gubuk kami tiba-tiba berkata kepadaku.
“Wan, dikau  merantaulah di tempat orang, nanti aku nyusul,” ucapnya sambil membaca buku.
Aku hanya mengangguk yakin.
“Kamu belajar dengan baik, agar segera lulus dan kita dapat lakukan sesuatu di kampung ini, carilah wawasan di tempat orang” nasehatnya lagi. Aku tersenyum mengangguk.
“Mar nanti kalu wan sudah di Pekanbaru dikau sering main ke gubuk ini, lihat-lihat Mamak ya?” pintaku padanya.
 “Ya….InsyaAllah” jawabnya
           Pagi aku mempersiapkan segala keperluan dan juga pakaianku untuk berangkat sore  nanti. Mamak ikut sibuk membantu sambil memasak makanan kesukaanku yaitu gulai kacang dan tahu goreng yang akan menjadi bekal makanku di kapal. Selepas Sholat Asar, Kumar telah siap mengantarku ke pelabuhan.  
“Dikau dah siap Wan?”
“Iyelah masak seorang laki-laki tak siap” jawabku mantab.
“Kalau sudah siap mari aku antar  ke pelabuhan, tapi pamit dulu dengan mamak tu” katanya.
Aku melihat wajah Mamak dan segera kuhampiri. Matanya basah karena menahan sedih atas kepergianku anak satu-atunya. Aku peluk  Mamak erat-erat.
“Mak, wan pergi untuk menuntut ilmu dan tolong Do’akan wan selalu ya Mak” kataku menahan kesedihan yang tiba-tiba datang menghampiriku.
Mamak hanya mengangguk tak berkata apa-apa, hanya menahan derasnya air mata yang membasahai wajah cantiknya. Sekali lagi kupeluk perempuan luar biasa itu dan perlahan kulepas pelukannya. Kubisikkan padanya, “Mak Do’a dan Ridhomu yang akan membuat aku sukses melangkah dan membuat kita bahagia.”
Kembali Mamak tidak berkat apa-apa. Dia hanya diam kemudian berusaha tersenyum untuk menyimpan rasa kehialangan atas kepergianku menuntut ilmu. Aku beranjak meninggalkan rumah setelah berucap salam dan perlahan wajah surgawi yang senantiasa memancarkan cinta dan ketulusan itu menghilang dari pandangan mataku.
Sore itu dipertengahan tahun 2007 aku berlari menuju kapal Jelantik yang tengah bersiap berlayar menuju Pekanbaru. Menuju tempat yang akan bisa mewujudkan cita-citaku agar bisa membahagiakan Mamak, Sang Motivator hidupku untuk terus berani dan tegar hadapi segala warna kehidupan. Sore itu kutinggalkan Mamak seorang diri di gubuk penuh cinta milik kami, dan dalam hatiku tersemat janji bahwa aku akan kembali untuk kebahagiaan Mamak.
Ya Allah sungguh aku bersyukur kepadaMu, telah memberiku seorang ibu yang selalu mengingatkanku untuk mentaatiMu dan bersyukur kepada seluruh karunia dan nikmatMu. Semenjak kepergian ayah untuk selamanya, engkaulah sosok Ibuku yang tangguh sekaligus sosok ayahku yang perkasa. Mamak Sang Motivator adalah segalanya bagiku.
Kini, sudah tiga setengah tahun aku jauh darimu Mamak dengan niat untuk tidak mau menyusahkanmu dan berharap segera bisa membahagiakanmu. Alhamdulillah sampai sekarang anakmu tetap semangat Mak, karena engkaulah Sang Motivatorku. Mak, satu bukti dari banyak janji-janjiku padamu untuk membahagiakanmu diantaranya sedikit kisah yang kugoreskan di lembaran ini. Aku yakin siapapun membaca goresan hatiku ini, mereka akan tersenyum dan mereka akan menilainya Mak.
Mamak, aku tahu semua yang aku lakukan untukmu belum seberapa dibandingkan dengan apa yang telah engkau berikan padaku. Kehidupan, kasih sayang dan cinta, motivasi dan nasehat yang tak mungkin bisa aku membalasnya. Bahkan kau pertaruhkan nyawamu waktu melahirkan anak laki-lakimu ini. Disetiap ingatanku, aku berjanji akan selalu berusaha membahagiakanmu sampai ajal menjemputku.
“Ya Robb lindungilah, selamatkanlah, serta jauhkanlah Mamakku dari sagala bahaya dan kesedihan. Ya Allah aku memohon kepadaMu, jangan Engkau panggil hambaMu ini sebelum tercapai keinginanku untuk membahagiakan Mamak, perempuan motivatorku. Allah ampunilah segala dosa kesalahanku padanya dan juga dosa orang tuaku. Ya Allah, sungguh tidak ada kehidupanku di dunia ini tanpa seorang ibu seperti Mamak. Satukan kami kelak dalam surgaMu.”

Ruang Sang Kelana, 07 April 2011
Jam 00:04

Catatan:
Endak :  mau
Macam:  seperti
Dengo :  dengar
Dikau :  kamu
Belajo:  belajar
Aje:  aja
Bio:  biar
Iye:  iya
Lame:  lama
Rasenye:  rasanya
Tak endak:  tak mau
Juge:  juga
Makenye:  makanya
Betol:  benar
Beso,;  besar
Mendengo:  mendengar

1 komentar:

  1. Menarik dan berkesan. Ibu ibarat pintu syurga untuk seorang anak...

    BalasHapus